Perempuan Kuat Itu Kadang Cuma Perempuan yang Tidak Punya Pilihan

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Ada perempuan-perempuan yang terlihat biasa saja di luar sana. Tetap masuk kerja walau semalam nangis diam-diam. Tetap membalas chat dengan “aku gapapa kok” padahal kepalanya penuh. Tetap jadi anak baik, ibu baik, pasangan baik, rekan kerja yang sigap, bahkan ketika dirinya sendiri hampir habis.

Mereka bukan tidak lelah. Mereka cuma terlalu terbiasa menahan.

Di media sosial, perempuan sering diajarkan menjadi “strong woman”. Harus mandiri, produktif, tidak cengeng, bisa menghasilkan uang sendiri, tetap cantik, tetap waras, tetap lembut. Seolah perempuan hebat adalah perempuan yang tidak pernah tumbang. Padahal di balik semua itu, ada banyak perempuan yang sebenarnya bertahan bukan karena kuat, tapi karena hidup tidak memberi mereka ruang untuk berhenti.

Syifa (nama samaran), Setiap pagi ia berangkat kerja sambil memastikan dirumahnya beres dan adiknya punya uang transport/jajan untuk sekolah. Di kantor ia dikenal ceria. Selalu bisa diandalkan. Tidak pernah mengeluh. Tapi hampir tidak ada yang tahu kalau beberapa malam terakhir ia sering duduk sendiri di kamar mandi hanya untuk menangis sebentar sebelum tidur.

Kalau aku capek, memangnya siapa yang bisa gantikan?” katanya suatu kali.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru di situlah letak beratnya hidup banyak perempuan. Mereka terus berjalan karena merasa tidak punya pilihan lain.

Perempuan yang Dipaksa Selalu Terlihat Baik-Baik Saja

Ada tekanan yang sering tidak terlihat dalam kehidupan perempuan: tuntutan untuk tetap stabil meski hidup sedang berantakan. Perempuan diajarkan untuk kuat menghadapi semuanya, tetapi jarang diberi ruang untuk benar-benar merasa lelah. Akhirnya banyak yang tumbuh menjadi manusia yang ahli menyembunyikan dirinya sendiri.

Melansir laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Staf Ahli Bidang Komunikasi Pembangunan KemenPPPA, Ratna Susianawati menyebut perempuan mengalami beban ganda yang semakin besar karena harus menjalankan banyak peran sekaligus mengurus keluarga, bekerja, hingga menjaga kestabilan rumah tangga.

Masalahnya, masyarakat sering memuji perempuan karena kemampuannya bertahan, tetapi lupa bertanya apakah ia sebenarnya bahagia. Banyak perempuan akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa istirahat adalah kemewahan. Bahwa menangis terlalu lama adalah kelemahan. Bahwa meminta tolong hanya akan merepotkan orang lain.

Padahal, manusia tetap punya batas.Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Ike Herdiana, menjelaskan perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena tekanan sosial dan emosional yang lebih kompleks. Dalam laporan yang dimuat Kompas.com, disebutkan perempuan lebih sering menghadapi tekanan batin yang dipendam sendiri dibanding laki-laki.

Kerentanan itu sering tidak terlihat karena perempuan sudah terlalu pandai terlihat “baik-baik saja”.

Bertahan Bukan Berarti Tidak Luka

Ada perempuan yang tetap bekerja saat tubuhnya sakit karena takut dianggap tidak profesional. Ada yang tetap tersenyum di rumah walau hubungannya sedang tidak sehat. Ada yang terus menguatkan semua orang di sekitarnya, padahal dirinya sendiri diam-diam berharap dipeluk dan ditenangkan.

Ironisnya, masyarakat lebih mudah mengagumi perempuan yang tahan banting dibanding perempuan yang jujur sedang kelelahan.

Melansir laman KemenPPPA tentang perlindungan hak pekerja perempuan, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan KemenPPPA, Rafael Walangitan menyebut pekerja perempuan rentan mengalami masalah kesehatan, diskriminasi, hingga kekerasan di lingkungan kerja. Kondisi biologis perempuan seperti haid, hamil, melahirkan, dan menyusui pun masih sering dianggap hambatan oleh perusahaan.

Karena itu, tidak semua perempuan yang terlihat kuat benar-benar sedang baik-baik saja. Kadang mereka hanya sedang bertahan hidup dengan versi paling sunyi dari dirinya.

Syifa pernah bilang, hal paling melelahkan bukan pekerjaannya. Tapi kenyataan bahwa ia harus selalu terlihat tenang agar orang lain tidak ikut khawatir. Dan mungkin itu juga yang dirasakan banyak perempuan hari ini: mereka terlalu sibuk menjadi tempat bersandar, sampai lupa bagaimana rasanya bersandar pada orang lain.

Mungkin selama ini kita terlalu sering memaknai perempuan kuat sebagai perempuan yang bisa menanggung semuanya sendirian. Padahal perempuan juga manusia yang bisa takut, kecewa, marah, bahkan ingin menyerah.

Dan mungkin, bentuk kekuatan paling besar bukan tentang seberapa lama seseorang mampu bertahan. Tapi keberanian untuk mengakui bahwa dirinya juga butuh ditolong.

beraktivitas, Keluarga, kesehatan mental, kuat, Perempuan, Remaja

Artikel Lainnya

Eni Widiyanti: Tekankan Pentingnya Peran Perempuan dalam Dunia Digital

Perubahan Iklim dan Dampaknya Kekerasan terhadap Perempuan

Hey Kutubers! Inilah Cara Memahami dan Melampaui Rasa Takut

Leave a Comment