Capek, Stres, atau Burnout? Ini Bedanya yang Sering Disalahpahami

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Setiap orang pasti pernah merasa lelah. Namun, tidak semua rasa lelah itu sama. Ada capek yang hilang setelah tidur, ada stres yang datang dan pergi, dan ada pula kondisi ketika kelelahan menetap, emosi menumpuk, serta motivasi perlahan menghilang. Di titik inilah burnout sering kali muncul diam-diam, tanpa disadari.

Burnout bukan sekadar rasa capek biasa. Ia adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang berkaitan erat dengan pekerjaan dan stres kronis yang tidak tertangani dengan baik. Banyak orang mengalaminya, namun sedikit yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Ketika Pulang Kerja, Pekerjaan Tak Pernah Benar-Benar Pulang

Rani, 23 tahun, bekerja di sebuah kantor dengan ritme kerja yang cepat. Awalnya ia mengira semua yang ia rasakan hanyalah capek biasa. Namun, malam hari menjadi waktu yang paling melelahkan.

Saat berbaring untuk tidur, pikirannya terus memutar ulang kesalahan di kantor dan daftar pekerjaan yang belum selesai. Tangannya refleks memeriksa ponsel, membaca pesan kantor, menelepon, dan menerima telepon terkait pekerjaan. Bahkan di akhir pekan, ketegangan itu tidak hilang. Minggu sore justru menjadi saat paling menyesakkan kecemasan tentang hari Senin datang lebih awal. Tangis pun sering muncul tanpa sebab yang jelas.

Suatu pagi, di dalam bus menuju kantor, Rani menatap keluar jendela. Di luar terlihat damai, tapi di dalam dirinya terasa kalut. Tiba-tiba terlintas pikiran yang membuatnya sendiri terkejut: “Andai bus ini kecelakaan, aku pasti tidak perlu masuk kerja.” Pikiran itu membuat Rani takut pada dirinya sendiri.

Rani bukan satu-satunya. Banyak orang membaca kisah seperti ini dan berkata, “Bukankah ini juga ceritaku?

Capek, Stres, dan Burnout: Apa Bedanya?

Capek. Capek bersifat sementara. Biasanya muncul setelah aktivitas fisik atau mental dan akan membaik dengan istirahat yang cukup.

Stres. Stres muncul saat tuntutan hidup atau pekerjaan terasa melebihi kemampuan kita. Stres masih bisa naik turun, dan dalam batas tertentu justru dapat memacu performa.

Burnout. Burnout terjadi ketika stres berlangsung lama dan tidak terkelola. Tandanya bukan hanya lelah, tapi juga:

  • Kelelahan emosional yang mendalam,
  • Menurunnya efektivitas dan rasa pencapaian kerja,
  • Munculnya sinisme atau perasaan terasing dari pekerjaan.

Burnout bukan tentang kurang kuat, melainkan tentang sistem dan beban yang terus menekan tanpa ruang pemulihan.

Burnout dalam Perspektif Ilmiah

Dalam buku Mengapa Aku Mengalami Burnout karya Ahn Juyeon, burnout dijelaskan sebagai kondisi komprehensif akibat stres kerja yang tidak bisa dipahami seperti penyakit medis dengan diagnosis tunggal. Namun, tingkat kelelahan emosional dapat diukur melalui berbagai skala ilmiah.

Salah satu yang paling dikenal adalah Maslach Burnout Inventory (MBI), dikembangkan oleh psikolog Amerika Christina Maslach sejak tahun 1990. Versi yang banyak digunakan saat ini adalah MBI-General Survey (MBI-GS) yang mengukur tiga elemen utama:

  • Kelelahan emosional
  • Efektivitas atau pencapaian kerja
  • Depersonalisasi atau sikap sinis terhadap pekerjaan

Contoh pertanyaan dalam MBI-GS antara lain:

  • Saya merasa terkuras secara emosional karena pekerjaan.
  • Saya merasa pekerjaan saya bermakna.
  • Saya meragukan pentingnya pekerjaan saya.

Jawaban atas pernyataan-pernyataan ini membantu memetakan tingkat burnout seseorang.

Pengakuan Dunia terhadap Burnou

Pada Mei 2019, World Health Organization (WHO) secara resmi memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11). Burnout diklasifikasikan sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.

WHO menegaskan bahwa meski bukan penyakit, burnout merupakan faktor yang membahayakan kesehatan fisik dan mental. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memperburuk kesehatan secara keseluruhan.

Prof. Dr. Subandi, M.A., psikolog dan Guru Besar Psikologi UGM, menjelaskan bahwa burnout sering terjadi pada individu yang bekerja dalam sistem dengan tuntutan tinggi namun minim kontrol dan dukungan. Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya dengan libur singkat, tetapi perlu perubahan cara kerja dan relasi dengan pekerjaan.

Sementara itu, Dr. Ike Herdiana, M.Psi., Psikolog dari Universitas Airlangga menyebut burnout sebagai sinyal bahwa seseorang telah melampaui batas kapasitas psikologisnya. Ia menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal burnout agar tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

Merasa capek bukanlah kegagalan. Mengalami stres bukan tanda lemah. Dan burnout bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan “lebih bersyukur” atau “lebih kuat”.

Burnout adalah pesan dari tubuh dan pikiran bahwa ada sesuatu yang perlu diubah. Mengenal perbedaannya adalah langkah awal untuk kembali menemukan ruang bernapas di tengah tuntutan hidup dan pekerjaan.

beraktivitas, Burnout, Cape, Indonesia, Kerja, kesehatan mental, Stres

Artikel Lainnya

Merayakan Hari Valentine dengan Me Time: Bentuk Kasih Sayang untuk Diri Sendiri

Resiliensi Menjadi Jawaban Dalam Penanganan Post Trauma Stress Syndrome (PTSD) di Desa Mangunkerta Cugenang-Cianjur

Menulis Fiksi Jadi Ruang Aman Perempuan: Solusi Sunyi untuk Kesehatan Mental dan Gerakan Literasi Baru

Leave a Comment