GONG XI FA CAI, Menyambut Tahun Kuda Api: Lintas Iman, Lintas Harapan

Hasemi

No Comments

Kutub. Co -Tahun 2026 dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api. Namun momentum ini tidak semata soal pergantian shio. Ia menghadirkan simbol, nilai, dan refleksi yang relevan bagi kehidupan bersama terutama di Indonesia yang hidup dalam keberagaman iman, budaya, dan tradisi.

Kuda dan api bukan sekadar lambang kosmologis. Keduanya menyimpan pesan etik yang dapat dibaca dalam kerangka kemanusiaan.

Kuda: Keberanian yang Bergerak dengan Arah

Dalam tradisi Tionghoa, kuda melambangkan keberanian, kebebasan, dan daya juang. Ia identik dengan gerak yang cepat, tenaga yang kuat, dan semangat pantang menyerah. Tetapi kekuatan kuda bukan hanya terletak pada kecepatannya. Ia juga dikenal sebagai makhluk yang loyal, hidup dalam kawanan, dan memahami ritme kebersamaan.

Simbol ini mengingatkan bahwa keberanian tidak sama dengan gegabah. Kebebasan bukan berarti berjalan sendiri tanpa peduli pada yang lain. Kuda boleh kuat, tetapi ia tetap membutuhkan kawanan. Seperti manusia berbeda latar, berbeda keyakinan, namun tetap saling membutuhkan.

Tahun Kuda Api mengajarkan bahwa bergerak cepat tidak cukup. Yang lebih penting adalah bergerak dengan arah. Dalam kehidupan sosial, arah itu bernama keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Api: Energi yang Harus Dikelola

Unsur api membawa makna ganda. Ia adalah energi, cahaya, dan kehangatan. Api memberi terang di tengah gelap, memberi hangat di tengah dingin, dan menjadi sumber daya bagi kehidupan. Namun api juga dapat membakar, melukai, dan menghancurkan bila tak dikendalikan.

Di tengah dinamika sosial yang mudah tersulut emosi baik oleh perbedaan pandangan, politik, maupun identitas simbol api terasa semakin relevan. Tahun ini mengajak kita untuk memilih: menjadikan energi sebagai daya bangun, bukan daya rusak. Mengelola amarah menjadi ketegasan yang bijak, bukan ledakan yang melukai.

Api yang terarah menjadi cahaya. Api yang tak terkendali menjadi bara konflik.

Imlek dalam Keberagaman Indonesia

Perayaan Imlek di Indonesia memiliki sejarah panjang. Sejak pengakuan kembali sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Imlek menjadi simbol keterbukaan dan pengakuan terhadap keberagaman budaya bangsa.

Kini, Imlek tidak hanya dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa atau penganut Konghucu, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi lintas iman. Doa mungkin berbeda bahasa. Cara sembahyang mungkin berbeda arah. Namun harapan yang dipanjatkan hampir selalu serupa: kedamaian, kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang cukup.

Di kota-kota besar hingga pelosok desa, lampion, barongsai, dan doa tahun baru hadir berdampingan dengan azan, lonceng gereja, dan kidung keagamaan lainnya. Inilah wajah Indonesia beragam namun saling memberi ruang.

Refleksi Lintas Iman

Pergantian tahun dalam kalender apa pun sesungguhnya adalah momen refleksi. Tahun Kuda Api bukan hanya soal ramalan atau karakter shio. Ia menjadi ruang bertanya kepada diri sendiri:

  • Sudahkah kita cukup adil dalam memperlakukan yang berbeda?
  • Sudahkah kita cukup peduli pada yang lemah?
  • Sudahkah kita menjaga sesama seperti kita menjaga diri sendiri?

Jika kuda mengajarkan keberanian, maka keberanian terbesar hari ini adalah merawat kebersamaan di tengah perbedaan. Jika api melambangkan energi, maka energi yang paling dibutuhkan adalah solidaritas sosial.

Harapan Tahun Kuda Api

Tahun 2026 dapat menjadi tahun yang penuh gerak dan dinamika. Namun gerak yang bermakna bukanlah yang paling cepat, melainkan yang paling tepat arah.

Semoga Tahun Kuda Api memberi keberanian untuk melangkah meski tantangan tidak ringan.Memberi nyala untuk tetap berharap ketika situasi terasa gelap.Dan yang terpenting, menguatkan solidaritas di tengah keberagaman.

Karena pada akhirnya, lintas iman bukan sekadar slogan. Ia adalah praktik hidup sehari-hari: saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Selamat menyambut Tahun Kuda Api 2026. Semoga keberanian kita terarah, dan energi kita menjadi cahaya bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi Indonesia.

2026, Gong xi fa cai, Indonesia, Keberagaman, Lintas Iman, Tahun baru Imlek

Artikel Lainnya

Dua Siswi MTs. Nurul Iman Maju Ke Final Olimpiade Matematika Internasional

Memperkuat Perlindungan Jurnalis: Dewan Pers dan IMS Menjamin Keamanan dan Profesionalisme Media di Indonesia

PC IPPNU Kabupaten Tasikmalaya Lakukan Silaturrahmi ke KPU Kabupaten Tasikmalaya

Leave a Comment