Kutub.co – Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Al-Islamy menggelar Kajian Pra Nikah bertajuk “Membangun Keluarga Sakinah” pada Sabtu (28/2/2026)lalu. di Majlis Utama PPMU. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan Dewan Asatidz Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Ust. Hengki Gitama, sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Wawa Setiawan.
Kajian ini digelar sebagai respons atas meningkatnya persoalan relasi dan pernikahan di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa. Dalam pemaparannya, Ust. Hengki menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar perayaan cinta.
“Pernikahan bukanlah sekadar perayaan cinta, melainkan sebuah perjanjian yang berat, ikatan yang suci,” ujarnya.
Ia menjelaskan, urgensi kajian pranikah bagi mahasiswa terletak pada pergeseran paradigma dari sekadar mengikuti perasaan menuju kesiapan berbasis ilmu. Menurutnya, banyak pernikahan gagal karena didasari dorongan emosional tanpa pemahaman yang matang.
“Urgensi kajian ini salah satunya untuk mencegah marriage by impulse. Banyak pernikahan gagal karena didasari perasaan yang tidak disertai ilmu. Kajian ini menjadi rem dan rambu-rambu agar santri tidak terjebak dalam romantisme naif,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya memutus mata rantai trauma dalam relasi. Pola asuh masa lalu yang tidak selesai, katanya, kerap diwariskan tanpa disadari dalam rumah tangga baru.
“Banyak krisis kepercayaan hari ini merupakan warisan pola asuh masa lalu. Santri perlu kajian untuk memutus siklus tersebut agar tidak diulangi pada generasi berikutnya,” tambahnya.
Aspek lain yang ditekankan adalah literasi relasi. Mahasiswa, menurutnya, perlu memahami bahwa relasi sehat dibangun di atas tanggung jawab, bukan sekadar siapa yang paling pengertian.
“Tanpa ilmu, ekspektasi hanya akan melahirkan kekecewaan,” katanya.
Lebih jauh, Ust. Hengki menegaskan bahwa tujuan utama kajian ini bukan sekadar menumbuhkan mimpi tentang keluarga ideal, tetapi membangun fondasi yang konkret.
“Kajian ini untuk membangun fondasi, bukan sekadar mimpi. Sakinah itu adalah skill. Keluarga sakinah dibuat dan diusahakan, bukan ditemukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa peserta dibekali pemahaman teknis seperti pengelolaan konflik, komunikasi efektif, hingga manajemen finansial rumah tangga. Hal tersebut penting agar mahasantri memiliki kesiapan praktis, bukan hanya kesiapan emosional.
Menjawab pertanyaan mengapa kajian ini penting sejak masa kuliah, ia menyebut fase mahasiswa sebagai masa “detoksifikasi diri”.
“Masa kuliah adalah waktu untuk menyelesaikan diri sendiri sebelum mengurus orang lain. Belajar ilmu pernikahan di masa ini memberi ruang untuk bermuhasabah tanpa tekanan beban rumah tangga yang nyata,” jelasnya.
Pesan untuk yang Belum Berencana Menikah
Kepada mahasantri yang belum berencana menikah dalam waktu dekat, Ust. Hengki justru mengingatkan agar tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk bersantai.
“Ini adalah waktu emas untuk menjadi orang yang tepat,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian diri, termasuk menyelesaikan persoalan emosional dan trauma masa kecil.
“Pernikahan akan melipatgandakan karakter asli kalian. Jika belum baik, akan semakin terlihat,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong peningkatan literasi finansial dan tanggung jawab pribadi. Mahasiswa diminta mulai belajar mandiri, mengelola uang, waktu, dan energi.
“Pernikahan membutuhkan orang yang sudah selesai dengan egonya sendiri,” katanya.
Demikian ustadz Hengki berpesan bahwa harus memperbanyak jam terbang ilmu sebelum mendekati hari pernikahan.
“Baca buku, ikut kajian, observasi keluarga yang harmonis. Jangan menunggu dekat hari H baru belajar, karena saat itu biasanya sudah sibuk mengurus teknis acara,” pungkasnya.