Kutub.co- Can This Love Be Translated? merupakan drama Korea romantis yang secara naratif mengisahkan hubungan antara seorang interpreter multibahasa, Joo Ho-jin (Kim Seon Ho), dan bintang film internasional, Cha Mu-hee (Go Youn Jung), yang perlahan menemukan cara menerjemahkan bukan hanya kata-kata, tetapi juga perasaan terdalam mereka di tengah kehidupan yang penuh sorotan publik.
Berlatar berbagai tempat wisata di banyak negara, membuat mata seperti dimanjakan dengan visual yang indah. Namun, dibalik keindahan tempat-tempat romantis tersebut terdapat lapisan emosional yang kompleks dan realistis tentang bagaimana manusia berjuang memahami perasaan sendiri dan orang lain, terutama ketika kata-kata yang diucapkan belum tentu mencerminkan rasa terdalam para tokoh.
Hubungan para tokohnya berjalan pelan, penuh jeda, salah paham kecil, dan keheningan yang terasa canggung, seolah mencerminkan proses batin manusia yang tidak pernah benar-benar rapi.
Relasi antara Cha Mun Hee dan Joo Ho Jin tidak dibangun melalui cinta yang meledak-ledak. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, berawal dari rasa nyaman dan kehadiran yang terasa aman. Namun ketika perasaan itu mulai nyata, keduanya justru diliputi keraguan. Ada ketakutan untuk melangkah terlalu jauh, takut salah mengartikan, dan takut tidak benar-benar dipahami. Di titik ini, drama memperlihatkan fase paling rapuh dalam hubungan manusia, saat emosi berkembang lebih cepat daripada keberanian untuk mengungkapkannya secara jujur.
Bahasa dalam drama ini tidak hanya hadir sebagai alat komunikasi, tetapi menjadi simbol bagaimana manusia menerjemahkan perasaan yang rumit. Ho Jin, yang terbiasa menafsirkan berbagai bahasa dunia, justru sering buntu ketika harus menyampaikan isi hatinya sendiri. Kemampuannya memahami kata tidak serta-merta membuatnya mahir memahami emosi. Sebaliknya, Mun Hee yang tampak ekspresif dan terbuka, menyimpan luka batin yang memengaruhi cara ia berbicara dan menjalin relasi. Perbedaan ini melahirkan konflik yang tidak selalu tampak besar, tetapi terasa nyata karena bersumber dari ketidaksiapan psikologis untuk menjadi rentan di hadapan orang lain.
Mun Hee sendiri digambarkan sebagai sosok yang terlihat kuat di permukaan. Ia populer, percaya diri, dan tampak tahu apa yang ia inginkan. Namun semakin cerita berjalan, semakin jelas bahwa keceriaan itu kerap menjadi pelindung bagi sisi dirinya yang rapuh. Ia membawa luka lama yang membuatnya kesulitan mengungkap perasaan secara langsung. Ada saat-saat ketika ia ingin didekati, tetapi di waktu yang sama justru menarik diri. Ia ingin dimengerti, namun tidak selalu tahu bagaimana caranya meminta. Drama ini dengan lembut menunjukkan bahwa proses penerimaan diri tidak pernah berjalan lurus. Seseorang bisa merasa baik-baik saja hari ini, lalu kembali goyah esok harinya. Trauma tidak serta-merta hilang hanya karena hidup terlihat berhasil atau karena dunia mengagumi kita.
Di titik inilah kehadiran Ho Jin menjadi penting. Sebagai penerjemah, ia terbiasa mencari makna di balik kata, tetapi bersama Mun Hee ia belajar bahwa perasaan tidak selalu hadir dalam kalimat yang jelas. Ada emosi yang muncul dalam diam, dalam jeda panjang, atau dalam sikap yang justru bertolak belakang dengan ucapan. Ho Jin tidak selalu memahami Mun Hee dengan tepat, bahkan kerap salah menafsirkan. Namun yang membedakannya adalah pilihannya untuk tidak pergi. Ia tidak memaksa Mun Hee agar segera terbuka, tidak pula menuntut kejelasan ketika Mun Hee sendiri masih berusaha memahami hatinya.
Perlahan, hubungan mereka memperlihatkan arti dukungan emosional yang sesungguhnya. Bukan tentang memberi jawaban atas semua luka, melainkan tentang menemani tanpa menghakimi. Mun Hee mulai belajar bahwa ia tidak harus selalu kuat untuk layak dicintai. Ia boleh ragu, boleh lelah, boleh belum selesai dengan dirinya sendiri. Rasa aman yang tumbuh dari kehadiran Ho Jin memberinya keberanian untuk menghadapi sisi-sisi dirinya yang selama ini ia hindari.
Pada akhir memnonton, Can This Love Be Translated? saya menyimpulkan bahwa mungkin drama ini mengajak penonton memahami bahwa cinta bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi juga tentang kesiapan batin untuk menerima diri sendiri apa adanya. Pun tentang menghadirkan pesan lembut bahwa cinta bukan tentang saling memahami dengan sempurna, melainkan tentang kesediaan untuk terus mencoba memahami, meski berkali-kali keliru. Karena terkadang, yang paling menyembuhkan bukan kata yang tepat, tetapi seseorang yang memilih bertahan saat kita sedang tidak baik-baik saja.