Kutub.co – Awal tahun sering dipandang sebagai babak baru: resolusi disusun, target ditetapkan, dan motivasi dipacu setinggi mungkin. Namun bagi banyak orang, Januari bisa berubah menjadi fase yang berat secara emosional dan mental sebuah fenomena yang nyata terjadi dan bahkan banyak dibicarakan oleh ahli kesehatan mental.
Fenomena “January Slump” dan Burnout Nyata
Para psikolog dan terapis kini menyadari bahwa ada fenomena umum yang disebut January slump penurunan motivasi dan energi setelah liburan panjang. Banyak orang merasa lelah, kurang fokus, dan mengalami “brain fog” tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kegagalan dalam mengatur motivasi, padahal ia memiliki dasar psikologis yang nyata.
Menurut ahli, faktor yang mempengaruhi fenomena ini tidak hanya berasal dari tekanan sosial untuk “memulai tahun dengan produktif”, tetapi juga akibat perubahan biologis seperti durasi siang yang lebih pendek di beberapa negara serta perasaan kehilangan struktur setelah rutinitas liburan.
Burnout Bukan Sekadar Capek Sementara
Istilah burnout sendiri bukan hanya kata populer belaka. Diakui secara internasional oleh World Health Organization (WHO), burnout adalah “sindrom yang disebabkan oleh stres kerja kronis yang tidak berhasil diatasi,” yang ditandai oleh:
- Kelelahan emosional
- Sinisme atau jarak mental terhadap pekerjaan
- Penurunan efektivitas profesional
Dalam banyak konteks, termasuk di luar dunia kerja formal, tanda-tanda burnout juga ditemukan misalnya, pada mahasiswa yang baru memulai semester baru, yang dihadapkan pada tekanan akademik dan lingkungan baru.
Mengapa Awal Tahun Terasa Berat?
Melansir laman IDN TIMES menyebut beberapa faktor yang saling berinteraksi:
- Ekspektasi tinggi, Resolusi tahun baru sering menuntut perubahan drastis. Ketika target tidak tercapai dengan cepat, perasaan gagal bisa saja muncul bukan karena kita kurang berdedikasi, tetapi karena ekspektasi itu sendiri berat.
- Kehilangan ritme dan struktur, Transisi dari liburan ke rutinitas normal bukan proses instan. Struktur seperti jam bangun, jadwal kerja atau belajar membantu otak merasa aman dan fokus. Ketika hilang, tubuh dan pikiran bereaksi dengan rasa cemas atau kehilangan arah.
- Tekanan sosial dan budaya performa, Budaya kerja yang menempatkan produktivitas sebagai nilai tertinggi sering kali membuat kita lupa memberi ruang untuk pemulihan diri. Banyak pekerja melaporkan tanda-tanda kelelahan yang berkepanjangan bahkan sampai mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Apa Kata Penelitian dan Realitas Kerja Saat Ini?
Sebuah survei global menemukan bahwa sebagian besar pekerja mengaku pernah mengalami gejala burnout seperti kelelahan, kabut otak, dan bahkan sakit fisik yang terkait dengan stres kerja. Lebih mengejutkan lagi, generasi muda pekerja berusia 18–34 tahun melaporkan gejala yang lebih kuat dibanding kelompok yang lebih tua.
Ini menunjukan bahwa burnout bukan sekedar isu individu, tetapi fenomena sosial yang melibatkan struktur pekerjaan, harapan diri, dan cara masyarakat menilai kinerja dan nilai diri.
Menavigasi Burnout di Awal Tahun
Agar tidak terjebak dalam lingkaran tuntutan yang melelahkan, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih ramah terhadap diri sendiri:
- Self–compassion, memberi diri ruang untuk merasa lelah adalah bagian dari proses.
- Adaptasi bertahap, kembali ke rutinitas secara perlahan bisa mengurangi tekanan.
- Fokus pada kebiasaan kecil , menata hari lewat langkah-langkah kecil membantu memberi rasa pencapaian tanpa tekanan besar.
Burnout Itu Nyata dan Bisa Dicegah
Fenomena burnout di awal tahun bukan sekedar mitos atau klaim emosional belaka. Ia merupakan kondisi psikologis yang nyata dan didukung oleh penelitian serta pengalaman banyak orang di berbagai negara. Mengakui bahwa tahap penyesuaian itu wajar adalah langkah awal untuk menanganinya secara sehat individu maupun kolektif.