Booster 2026: Kenapa Kita Harus Tetap Peduli pada Vaksin?

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Di tahun 2026, pandemi COVID-19 sudah jauh berubah bentuknya. Kita tak lagi hidup di tengah krisis yang sama seperti di 2020 hingga 2022. Namun ancaman virus masih ada, meski dalam wujud yang lebih terkendali. Hal ini membuat vaksin lebih spesifik lagi vaksin booster COVID-19 tetap relevan dan penting untuk dibicarakan secara serius di ruang publik. Statistik menunjukkan bahwa program vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan jauh dari awal kampanye pada 2021. Sebagian besar masyarakat telah menerima setidaknya dua dosis vaksin. Namun cakupan vaksin booster masih rendah dibandingkan suntikan primer. Berdasarkan studi terbaru, hanya sekitar 25,7 persen penduduk telah menerima dosis ketiga (booster pertama) dan kurang dari 1 persen menerima dosis keempat (booster kedua). ini relevan karena booster, khususnya dosis ketiga dan keempat, membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap paparan virus varian baru. Namun kenyataannya, rasio penerimaan vaksin tambahan tersebut masih jauh dari target ideal.

Kenapa Booster Masih Penting?

Vaksin booster bukan sekadar dosis tambahan tanpa makna. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 booster membantu meningkatkan kadar antibodi dan memperpanjang perlindungan tubuh terhadap infeksi, terutama di kelompok rentan seperti lansia dan pekerja kesehatan. Studi global juga menemukan bahwa booster efektif meningkatkan respons imun meski efeknya berangsur turun seiring waktu. Di Indonesia sendiri, sejak 24 Januari 2023, pemerintah membuka program vaksinasi booster kedua untuk masyarakat umum usia 18 tahun ke atas, bertujuan memperluas perlindungan sekaligus memperbaiki cakupan vaksin booster yang masih rendah.

Tantangan di Tengah Masyarakat

Masih rendahnya tingkat booster ini mencerminkan tantangan besar: rendahnya kesadaran dan penerimaan publik terhadap vaksin tambahan. Menurut studi terbaru yang dilakukan pada 2026, hanya sekitar 11 persen orang dewasa yang menerima dosis keempat vaksin COVID-19 padahal bukti efektivitas dan keamanannya sudah kuat dipublikasikan ilmuwan.

Faktor yang mempengaruhi penerimaan ini bukan hanya soal ketersediaan vaksin, tetapi juga persepsi risiko, akses informasi yang benar, serta tingkat kepercayaan publik terhadap program kesehatan pemerintah. Komunikasi risiko yang efektif sangat penting agar masyarakat memahami bahwa pandemi belum sepenuhnya berakhir dan bahwa booster tetap relevan sebagai alat proteksi strategi jangka panjang.

Masalah Herd Immunity dan Tantangan Global

Isu vaksin tidak hanya terbatas pada COVID-19 saja. Data global terbaru menunjukkan bahwa cakupan vaksin anak pada imunisasi dasar seperti DTP (difteri, tetanus, pertusis) dan campak masih belum pulih ke level sebelum pandemi, sementara kelompok anak yang tidak pernah menerima vaksin sama sekali justru meningkat. Ini menunjukkan bahwa fenomena keengganan atau jenuh terhadap vaksin bisa berpengaruh kepada berbagai program imunisasi lain yang sejatinya harus terus berjalan untuk mencegah penyakit menular lain.

Perubahan Strategi Kebijakan Kesehatan

Pemerintah Indonesia telah memperluas jenis vaksin booster melalui berbagai kombinasi vaksin yang diakui, termasuk vaksin seperti Zifivax dan vaksin vaksin lain yang tervalidasi BPOM untuk booster lanjutan. Ini menunjukkan bahwa upaya kebijakan kesehatan Indonesia tetap adaptif terhadap perkembangan sains dan teknologi vaksin. Pendekatan kebijakan saat ini sudah tidak lagi bersifat massal seperti masa awal pandemi; melainkan berjalan berdasarkan risiko dan segmentasi kelompok populasi, seperti lansia, pekerja layanan publik, dan individu dengan komorbid yang rentan terhadap komplikasi parah akibat COVID-19. Namun, perubahan strategi ini bukan berarti program vaksin itu “tidak relevan lagi”. Sebaliknya, ini adalah bentuk kematangan kebijakan kesehatan yang mulai bergerak dari respons krisis menuju manajemen risiko jangka panjang.

Peran Komunikasi Publik

Kunci keberhasilan kebijakan vaksinasi bukan hanya pada seberapa banyak suntikan yang diberikan, melainkan bagaimana masyarakat memaknai dan menyikapi informasi tentang vaksin. Komunikasi yang jelas, transparan, dan didukung data dapat meningkatkan kepercayaan publik yang sempat goyah akibat anggapan bahwa pandemi sudah berakhir. Media massa memegang peran penting dalam menjaga diskursus vaksin tetap objektif, faktual, dan edukatif tanpa memicu ketakutan atau sebaliknya, meremehkan risiko.

Di era post-pandemi yang semakin adaptif ini, vaksin booster tetap menjadi salah satu instrumen penting untuk melindungi masyarakat dari ancaman yang belum sepenuhnya hilang. Angka cakupan booster yang masih relatif rendah membuka ruang diskusi tentang strategi kesehatan publik, komunikasi risiko, serta inovasi layanan kesehatan. Booster bukan sekadar jargon kampanye kesehatan, tetapi refleksi dari bagaimana sebuah bangsa memaknai kesehatan kolektifnya: bukan hanya saat krisis besar berlangsung, tetapi sepanjang waktu, demi masa depan generasi yang lebih kuat, sehat, dan produktif.

Penulis: Dr. Riza Arlinda Ferliana, Salah satu Mahasiswa Magister Manajemen Rumah Sakit Prodi MM FEB UNISBA

beraktivitas, Booster, Kesetaraan, Remaja, Vaksin

Artikel Lainnya

Mengapa Penting  Paham Kesehatan Reproduksi Sejak Dini? Yuk, Cari Tahu!

Membaca Ulang Kekerasan: Apa yang Sebenarnya Kita Lawan di 16 HAKTP?

Preload Buah Membantu Menjaga Gula Darah Stabil

Leave a Comment