Kutub.co – Berbagai data menunjukkan bahwa sekitar 30–46 persen siswa SMP mengalami harga diri rendah. Penyebabnya beragam, mulai dari kebiasaan membandingkan kemampuan akademik dan non-akademik, bentuk fisik, hingga prestasi teman sebaya. Pengalaman itu terasa sangat dekat denganku. Di masa remaja, aku sering merasa minder karena terlalu fokus pada apa yang tidak kumiliki, sampai akhirnya aku berkenalan dengan buku Filosofi Teras.
Buku ini memperkenalkanku pada Stoikisme, sebuah filsafat praktis yang menekankan pentingnya memahami “zona kendali”. Intinya sederhana: fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita seperti pikiran, usaha, dan respon, serta belajar menerima hal-hal di luar kuasa kita seperti penilaian orang lain atau hasil akhir yang sudah terjadi.
Awalnya, orang tuaku sempat ragu. Menurut mereka, filsafat terdengar terlalu berat untuk usia remaja. Namun setelah aku menjelaskan bahwa Stoikisme justru bersifat praktis dan relevan dengan masalah sehari-hari remaja, mereka akhirnya mengizinkanku membaca dan mempraktikkannya.
Penerapan Zona Kendali dalam Situasi Nyata
Pengalaman pertama yang cukup membekas adalah saat menerima nilai ulangan yang tidak memuaskan. Teman sekelasku mendapat nilai 90, sementara aku hanya 65. Biasanya, situasi seperti ini langsung memicu pikiran negatif: merasa bodoh, kalah, dan tidak berguna. Dengan konsep zona kendali, aku mulai memilah. Nilai teman dan soal ujian berada di luar kendaliku, sementara cara belajarku ke depan sepenuhnya berada dalam kendali.
Respon Stoik yang kuambil sederhana nilai 65 sudah berlalu, yang bisa kulakukan adalah menyusun jadwal belajar dua jam setiap hari dan mulai bertanya pada teman yang lebih paham.Pengalaman lain terjadi ketika aku dikritik di depan kelas. Seorang ustadz mengatakan hafalanku masih acak-acakan. Biasanya aku akan merasa malu dan ingin menghilang. Kali ini, aku mencoba metode S-T-A-R. Aku berhenti sejenak dan menarik napas, lalu menilai situasinya. Kritik ustadz adalah sesuatu di luar kendaliku, tetapi latihan hafalanku adalah tanggung jawabku. Respon yang kupilih pun lebih tenang: menerima masukan dan berjanji untuk mengulang hafalan di rumah.
Makna Filosofi Teras bagi Remaja
Dua pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa Filosofi Teras bukanlah teori rumit yang jauh dari kehidupan remaja. Ia justru menjadi alat praktis untuk menghadapi tekanan sehari-hari. Overthinking perlahan berkurang karena fokus berpindah dari pikiran “aku gagal selamanya” menjadi pertanyaan “apa yang bisa aku perbaiki sekarang”. Drama emosi pun menurun, dari reaksi menangis atau marah menjadi respon yang lebih tenang dan menghargai diri sendiri. Dalam konteks ini, mencintai diri bukan berarti memanjakan ego, tetapi melindungi diri dari serangan pikiran negatif yang kita ciptakan sendiri.
Berdasarkan pengalamanku, memahami perbedaan antara hal-hal yang berada di dalam dan di luar kendali, serta menerapkan metode S-T-A-R, cukup efektif untuk menghadapi dunia remaja yang penuh teka-teki. Hidup memang tidak selalu bisa diatur sesuai keinginan, tetapi respon kita terhadapnya selalu bisa dipilih. Di situlah aku belajar menjadi lebih tenang dan menerima diri apa adanya.
Penulis: Qiara Puspa Kustiadi, Salah satu Ketua Osis Putri MTs Nurul Iman