Tubuh Punya Hak untuk Dipahami

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Dalam perbincangan publik Indonesia, tubuh sering dipandang sebagai benda diam yang tak layak dibicarakan secara terbuka terutama ketika tema yang disentuh adalah kesehatan reproduksi. Kenyataannya, memahami tubuh sendiri adalah hak dasar yang secara langsung terkait dengan kesehatan, otonomi, dan masa depan seseorang. Isu ini bukan sekadar persoalan pendidikan ia adalah persoalan politik pengetahuan dan kewenangan atas diri sendiri.

Tubuh adalah rumah yang kita tempati seumur hidup. Ketidaktahuan tentang sistem reproduksi berarti menyerahkan kendali atas kesehatan kita pada mitos, asumsi, atau norma sosial yang sering kali tidak berpihak pada kesejahteraan individu. Karena itu, pemahaman tubuh bukan urusan seremonial ia adalah tindakan berdaulat atas hak asasi kita.

Hak untuk Tahu: Literasi Sebagai Perlindungan

Setiap individu berhak memperoleh informasi yang akurat, berbasis medis, dan bebas stigma tentang apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Literasi kesehatan reproduksi bukan sekadar istilah; ia adalah perlindungan pertama dari misinformasi yang beredar luas di ruang publik dan sosial media. Tanpa pemahaman yang benar, individu menjadi rentan terhadap keputusan yang berisiko bagi kesehatannya sendiri.

Melansir laman Kompas.co menurut Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menegaskan bahwa pendidikan tentang kesehatan reproduksi sering disalahpahami sebagai pendidikan tentang hubungan seksual semata. Padahal, menurutnya, pendidikan ini pada hakikatnya membekali pengetahuan untuk menjaga kesehatan reproduksi agar risiko penyakit seperti kanker mulut rahim atau kanker payudara bisa dicegah sejak dini selama masyarakat memperoleh informasi dari awal yang benar.

Hak atas Otonomi: Menentukan Batas atas Tubuh Sendiri

Ketika seseorang memahami bagaimana tubuhnya bekerja, termasuk siklus dan fungsi reproduksi, ia mampu menetapkan batasan yang jelas: apa yang normal, apa yang memerlukan penanganan medis, dan apa keputusan yang berhak dia tolak. Otonomi tubuh bukan konsep romantis ia adalah keharusan rasional untuk membuat keputusan yang berdampak pada kehidupan dan masa depan.

Kemudian menurut dr. Raden Kusumadewi, Sp.OG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang sering berbicara dalam seminar kesehatan reproduksi Indonesia, menekankan pentingnya pemahaman organ reproduksi dan fungsi biologisnya sebagai dasar dari setiap keputusan terkait kesehatan reproduksi termasuk keputusan klinis yang serius. Meskipun seringnya diskusi ini dibingkai sebagai sesuatu yang tabu, pemahaman tubuh justru mencegah risiko dan komplikasi kesehatan yang tidak diinginkan.

Hak atas Rasa Aman: Bertanya Tanpa Dihakimi

Masyarakat perlu menyadari bahwa bertanya tentang tubuh adalah kewajaran, bukan sesuatu yang memalukan. Ketika rasa aman ini tidak ada ketika stigma lebih tinggi daripada empati banyak individu memilih diam dan menanggung risiko sendirian. Ini bukanlah aman ini justru mengubur potensi bahaya yang seharusnya ditangani lebih awal.

Budaya menghakimi kesehatan reproduksi justru memperlemah sistem pertahanan sosial terhadap kesalahan informasi dan praktik berbahaya yang bisa saja berujung pada komplikasi serius.

Memutus Lingkaran Tabu

Selama bertahun-tahun, masyarakat diajarkan bahwa membicarakan tentang kesehatan reproduksi itu malu. Mereka yang mengajukan pertanyaan sering disurutkan dengan anggapan moralistik yang tidak mendidik. Diam bukan berarti aman; diam sering kali berarti memikul risiko sendirian dan terlambat mencari bantuan medis ketika diperlukan.

Tabu yang tidak dipertanyakan justru melanggengkan ketidaktahuan kolektif. Pendidikan tubuh harus dipindahkan dari ruang rahasia ke ruang publik yang aman, edukatif, dan berstandar medis.

Tubuhmu, Otoritasmu

Sejatinya, percakapan tentang kesehatan reproduksi harus dinormalisasi sebagai bagian dari perawatan diri yang mendasar. Tubuh bukan milik norma sosial, bukan milik stigma, dan bukan milik ketakutan kolektif. Tubuh adalah otoritas personal yang layak dipahami, dihormati, dan dirawat berdasarkan pengetahuan ilmiah, bukan sekadar rasa malu atau praduga.

Memahami tubuh bukan tindakan melawan siapa pun. Ia adalah langkah paling rasional untuk hidup dengan sadar, sehat, dan berdaulat atas keputusan sendiri mulai dari literasi hingga ke otonomi tubuh.

kesehatan, Perempuan, Remaja, Tubuh

Artikel Lainnya

Ini Alasan Kamu Jadi Gampang Marah saat Menstruasi

Mengapa Penting  Paham Kesehatan Reproduksi Sejak Dini? Yuk, Cari Tahu!

Membaca Ulang Kekerasan: Apa yang Sebenarnya Kita Lawan di 16 HAKTP?

Leave a Comment