Perempuan di Era Always-On: Dari Kelelahan Digital Menuju Batas yang Lebih Manusiawi

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia bekerja dan berelasi. Namun bagi banyak perempuan, perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak ringan. Notifikasi yang terus menyala, pesan yang datang tanpa mengenal waktu, dan tuntutan untuk selalu responsif membuat batas antara kerja dan kehidupan personal kian kabur. Dalam situasi ini, perempuan terutama ibu bekerja sering menjadi pihak yang paling terdampak.

Perempuan kerap berada di pusat pengelolaan kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, tanggung jawab profesional menuntut fokus, kecepatan, dan ketersediaan. Di sisi lain, urusan domestik dan emosional keluarga tetap melekat, dari mengurus kebutuhan anak hingga memastikan ritme rumah tangga berjalan. Teknologi membuat semua tuntutan itu hadir bersamaan dalam satu layar, di satu waktu, dan sering kali di satu ruang yang sama.

Kondisi always-on ini bukan hanya soal padatnya jadwal, tetapi juga tentang beban mental yang tidak terlihat. Perempuan lebih sering memikul tanggung jawab untuk mengingat, merencanakan, dan mengantisipasi beban kognitif yang jarang diakui sebagai kerja. Ketika pergantian fokus terjadi terus-menerus, kelelahan digital pun muncul: tubuh mungkin berhenti, tetapi pikiran tetap bekerja.

Dampaknya tercermin jelas pada kesehatan mental perempuan. Melansir laman Magdalene, survei CVS/Harris Poll (2022–2023) menunjukkan bahwa 42 persen ibu bekerja mengalami kecemasan dan/atau depresi, hampir dua kali lipat dibanding populasi umum yang berada di angka 28 persen. Studi Motherly (2021) bahkan melaporkan 93 persen ibu merasa mengalami burnout. Kelelahan ini tidak berhenti pada individu. Konflik kerja dan keluarga yang tinggi berhubungan dengan perubahan gaya pengasuhan. Ketika energi emosional terkuras, ibu bisa jatuh pada pola yang terlalu keras atau terlalu longgar bukan karena kurang cinta, melainkan karena tidak memiliki ruang untuk pulih.

Namun, persoalan ini sering kali dibingkai sebagai kegagalan personal perempuan dalam “mengatur waktu”. Padahal, akar masalahnya bersifat struktural. Budaya kerja yang menormalisasi respons cepat, ekspektasi selalu tersedia, serta pembagian peran domestik yang belum setara membuat perempuan terus berada dalam posisi siaga. Mitos tentang “keseimbangan sempurna” justru menambah tekanan, seolah perempuan yang baik adalah mereka yang mampu menanggung semuanya tanpa terlihat lelah.

Pendekatan yang lebih konstruktif menuntut perubahan cara pandang. Solusinya bukan meminta perempuan menjadi lebih kuat, melainkan menciptakan sistem yang lebih jelas dan adil. Di tingkat individu, perempuan berhak menetapkan batas: waktu tanpa notifikasi, jam bebas kerja, dan ruang yang memungkinkan pemisahan peran. Batas ini bukan bentuk kemalasan, melainkan strategi menjaga keberlanjutan diri.

Di tingkat keluarga, pembagian tanggung jawab perlu melampaui konsep “membantu”. Yang dibagi bukan hanya tugas fisik, tetapi juga beban berpikir merencanakan, mengingat, dan mengambil keputusan. Komunikasi yang konkret dan setara menjadi kunci agar beban tidak terus menumpuk di satu pihak.

Sementara itu, tempat kerja memiliki peran krusial. Fleksibilitas yang nyata, budaya komunikasi yang menghormati waktu personal, serta ekspektasi respons yang manusiawi bukanlah fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar agar perempuan dapat bertahan dan berkembang di ruang publik. Tanpa perubahan ini, teknologi justru memperpanjang jam kerja tak terlihat yang sebagian besar ditanggung perempuan.

Perempuan memiliki kapasitas besar untuk bergerak di berbagai peran. Namun kapasitas itu tidak seharusnya dieksploitasi hingga kelelahan menjadi hal yang dinormalisasi. Dengan batas yang lebih jelas, dukungan yang setara, dan kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan, teknologi dapat kembali menjadi alat bantu bukan sumber kelelahan. Di sanalah ruang pulih perempuan bisa dijaga, dan peran ganda tidak lagi harus dibayar dengan kehabisan diri.

Always on, beraktivitas, digital, Perempuan, Tanggung jawab

Artikel Lainnya

Melebihi Warna dan Label: Fesyen Perempuan sebagai Arena Eksplorasi Diri

Perempuan Tidak Harus Sempurna, Cukup Hadir dengan Cinta Pada Diri dan Keluarga

Biar Puasa Tetap Strong! Ini Tips Sahur dan Berbuka Sehat ala Dokter Steven

Leave a Comment