Kita Tahu Fast Fashion Itu Merusak, Tapi Kenapa Tetap Checkout?

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Saat kita ngomong tentang fast fashion, yang sering muncul bukan hanya soal tren atau harga murah. Tapi fakta lingkungan yang tak bisa lagi kita abaikan. Industri fashion terutama model produksi cepat menyumbang sekitar 10% dari emisi karbon global, tak kalah besar dibanding gabungan sektor penerbangan dan pelayaran.

Meski sadar akan dampaknya, kenapa kita tetap tergoda belanja?

1. Dopamin Instan Belanja: Happy Moment

Belanja bukan sekadar kebutuhan ini soal reward loop. Otak kita melepaskan dopamin ketika kita mendapatkan barang baru sensasi “baru” dan “diterima” secara sosial lewat tren terbaru membuat kita merasa puas, setidaknya sesaat.Masalahnya? Kesenangan itu sementara. Banyak dari pakaian yang kita tekan “checkout” itu hanya dipakai beberapa kali bahkan ada penelitian yang menyebut sebagian item dipakai kurang dari 5 kali sebelum dibuang.

Itu berarti dopamin singkat + limbah panjang.

2. Fakta Lingkungan yang Gak Boleh Kita Abaikan

Ini bukan hiperbola, ini angka:

  • Industri fashion menyumbang 10% emisi karbon global dari produksi hingga distribusi.
  • Sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan tiap tahun.
  • Industri ini juga termasuk konsumen air besar, dengan pembuatan satu kaos katun memerlukan ribuan liter air.
  • Banyak pakaian berbahan sintetis yang tidak terurai dan justru menjadi mikroplastik di lautan.

Belum lagi fakta nyata bahwa beberapa raksasa fast fashion masih berjuang menurunkan jejak emisi mereka secara substansial sementara kritik terhadap klaim “ramah lingkungan” terus bermunculan. Salah satu perusahaan mendapat denda di Eropa karena klaim lingkungan yang menyesatkan.

3. Kenapa Sulit Berhenti? Ini Rasionya

Tidak cukup hanya sadar:

Kita hidup dalam budaya konsumsi. Iklan, algoritma media sosial, hingga ‘fear of missing out’ membuat kita merasa harus selalu update dan ironisnya justru generasi yang paling peduli lingkungan juga konsumen fast fashion terbesar. Itu kontradiksi yang perlu dikritik, bukan sekadar diakui.

4. Dampak Nyatanya di Dunia Nyata

Dampak industrinya tidak cuma soal statistik:

  • Di beberapa negara Afrika seperti Kenya, tumpukan pakaian bekas (termasuk yang tak layak pakai) membanjiri pasar lokal tapi akhirnya menjadi limbah.
  • Bahkan ketika ada inisiatif untuk daur ulang, kurang dari 1% limbah tekstil benar-benar diolah ulang menjadi produk baru di banyak wilayah.

Ini bukan masalah jauh, ini adalah distribusi biaya sosial dan lingkungan produksi murah, dampak besar.

5. Tips Mindful Shopping Tapi Jangan Cuma Soft Advice

Kalau hanya memberi tips ringan tanpa menggugah refleksi kritis, itu justru melegitimasi konsumsi. Bukan sekadar 30 hari aturan tunggu, tapi tanyakan:

  • Apakah aku benar-benar butuh ini?
  • Apakah ini akan dipakai lebih dari 10 kali?
  • Apakah pembelian ini memperkuat model produksi yang merusak?

Tips teknis:

  • Aturan 30 hari sebelum beli ini bukan hanya delay, ini soal membedakan impuls dari kebutuhan.
  • Pilih bahan yang awet. Investasi pada kualitas berarti lebih sedikit limbah.
  • Evaluasi lemari kamu sekarang. Berapa banyak item yang tidak pernah dipakai tahun ini? Tantang diri sendiri untuk jujur.

6. Tidak Ada Solusi Instan

  • Mendorong perilaku konsumen itu penting tapi kita juga perlu kritik struktural
  • Regulasi baru di beberapa negara (mis. sistem eco-score di Prancis) menunjukkan tren memaksa industri untuk bertanggung jawab.
  • Produsen besar mulai mengklaim inisiatif hijau, namun banyak pakar meragukan sejauh mana itu nyata versus greenwashing.

Ini menunjukkan perubahan hanya bisa terjadi bila konsumen sadar dan sistem ikut berubah.

Kutubers Kecanduan fast fashion bukan sekadar soal harga murah atau tren cepat ini soal sistem sosial-ekonomi yang memanfaatkan kelemahan psikologis kita. Jika kita ingin perubahan nyata, kritik diri dan kritik sistem harus berjalan berdampingan. Karena kalau yang berubah hanya gaya belanja, bukan cara kita berpikir, maka kita tetap akan mengulang pola yang sama.

beraktivitas, Checkout, Fakta lingkungan, Fast Fashion, Indonesia, Kesetaraan, Limbah, Remaja

Artikel Lainnya

Perempuan dan Rasa Aman yang Masih Terus Dipertaruhkan

 INTP, Si Kepribadian Paling Pendiam dan Pemikir

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Wanita: Dari Regulasi Hormon hingga Peningkatan Imunitas

Leave a Comment