kutub.co – Sebagai tindak lanjut dari Need Assessment pelatihan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) inklusif yang dilakukan sepanjang 2025, ICT Watch bekerja sama dengan Meta Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Literasi Kecerdasan Artifisial Ramah Disabilitas. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis 22 Januari 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, dan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari teman netra dan teman tuli.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman dasar mengenai konsep dan literasi AI, termasuk cara kerja AI secara sederhana, serta prinsip penggunaan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab. Seluruh materi disampaikan dengan pendekatan pembelajaran yang aksesibel dan inklusif, menyesuaikan kebutuhan peserta penyandang disabilitas netra dan tuli oleh Trainer tuli dan Netra.
Manager Public Policy Meta Indonesia, Nadhila Renaldi, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Meta dalam mendorong demokratisasi teknologi, khususnya AI, agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua kalangan tanpa terkecuali.
“Kami percaya partisipasi aktif dari komunitas disabilitas sangat penting untuk memastikan teknologi yang dikembangkan benar-benar inklusif, mengurangi bias, dan mencegah diskriminasi. Dengan keterlibatan langsung dari teman-teman disabilitas, kita dapat menciptakan solusi teknologi yang lebih adil dan bermanfaat bagi semua,” ujar Nadhila.
Ia juga menjelaskan bahwa sebelum pelatihan dilaksanakan, Meta bersama ICT Watch telah melakukan proses assessment dengan melibatkan teman netra dan teman tuli untuk memberikan masukan terhadap modul awal pelatihan. Masukan tersebut menjadi dasar penyempurnaan materi agar lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Sementara itu, Muhammad Trisna Kusuma Wardana, Project Officer ICT Watch sekaligus Project Leader Program AI Inklusif, menyampaikan bahwa perkembangan AI membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, namun masih menyisakan kesenjangan akses, khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
“Program AI Inklusif hadir untuk memastikan bahwa perkembangan AI tidak hanya cepat dan canggih, tetapi juga adil, setara, dan dapat diakses oleh semua orang. Literasi AI tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan kritis untuk memahami manfaat, risiko, etika, dan dampak AI terhadap kehidupan sehari-hari,” jelas Trisna kepada kutub.co
Menurut Trisna, AI yang inklusif berarti tidak memperkuat bias dan diskriminasi, menghormati hak serta martabat penyandang disabilitas, dan dibangun dengan prinsip human-centered, inclusive by design, serta nothing about us without us. Dalam program ini, penyandang disabilitas ditempatkan sebagai subjek dan aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat.
Pelatihan ini juga menjadi momentum penting dengan penyerahan Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli, yang diharapkan dapat menjadi rujukan praktis nasional bagi berbagai pihak dalam menyelenggarakan kegiatan literasi digital yang inklusif.

ICT Watch menegaskan bahwa literasi AI yang inklusif bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan moral dan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi dengan Meta Indonesia, dukungan para mitra, serta keterlibatan aktif komunitas disabilitas, program ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem AI yang lebih adil, setara, dan manusiawi, serta memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal dalam transformasi digital.
Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli dapat diakses di http://s.id/aiinklusif