Generasi Scroll: Antara Terhubung dan Kesepian

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Setiap hari media sosial menampilkan berbagai potret kebahagiaan. Namun, tidak semua yang terlihat indah di layar benar-benar mencerminkan ketenangan batin. Media sosial memang memberi banyak kemudahan dalam kehidupan modern, tetapi juga menyimpan dampak tersembunyi terhadap kesehatan mental generasi muda.

Kini, media sosial bukan sekadar ruang berbagi informasi. Ia menjadi ruang hidup baru tempat seseorang membangun citra diri, mencari pengakuan, sekaligus menyimpan kegelisahan. Melalui gawai yang hampir selalu berada di tangan, berbagai cerita tentang keberhasilan, perjalanan, dan kehidupan yang tampak sempurna terus mengalir. Padahal, di balik unggahan tersebut, sering tersimpan perasaan yang tidak pernah ditampilkan.

Generasi masa kini tumbuh bersama media sosial. Ia memudahkan komunikasi, membuka peluang belajar, sekaligus menjadi ruang ekspresi diri. Namun, kedekatan itu juga dapat menciptakan jarak dengan diri sendiri. Tanpa disadari, media sosial membentuk standar kebahagiaan yang tidak realistis. Melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna sering memunculkan perasaan tidak percaya diri.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti tren digital. Akibatnya, waktu istirahat berkurang, fokus menurun, dan kecemasan meningkat. Selain itu, media sosial juga membuka ruang bagi perundungan digital yang dapat meninggalkan luka psikologis mendalam.

Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Ia hanyalah alat, sementara cara penggunaannya bergantung pada individu. Masalah muncul ketika media sosial dijadikan ukuran nilai diri, bukan sekadar sarana berbagi pengalaman.

Menjaga kesehatan mental membutuhkan keseimbangan. Sesekali, mengambil jarak dari notifikasi dan dunia digital dapat membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Kebahagiaan tidak selalu harus terlihat sempurna, dan nilai diri tidak pernah ditentukan oleh jumlah tanda suka atau pengikut.

Di tengah arus informasi yang begitu cepat, mungkin kita perlu kembali belajar menerima diri sendiri. Sebab, di dunia yang berlomba untuk terlihat, menjaga kewarasan sering kali dimulai dari keberanian untuk tidak selalu tampil.

Bagaimana pengalamanmu menggunakan media sosial? Apakah lebih banyak memberi semangat atau justru menimbulkan tekanan?

Penulis: Ai Siti Masruroh

beraktivitas, digital, Indonesia, Instagram, Remaja, Scroll hp, Tiktok

Artikel Lainnya

Dari Lelah Jadi Berkah: Perjalanan Salwa Menjadi Hafidzah

Kutubers! Yuk Ketahui Keputihan yang Normal vs Tidak Normal pada Wanita

7 Minuman Rahasia agar Otak Tetap Tajam dan Nggak Gampang Pikun

Leave a Comment