Dinginnya Pagi di Cianjur: Seorang Bayi, Ribuan Telunjuk, dan Satu Sosok yang Terlupakan

puput latifa

No Comments

Kutub. co – Lebaran di Cianjur tahun ini seharusnya tentang aroma opor yang mengepul dan gelak tawa keluarga yang baru saja menuntaskan rindu perjalanan jauh. Namun, pagi itu, desa kami justru dikejutkan oleh sesuatu yang membekukan darah.


Di belakang sebuah rumah, di atas tanah yang lembap, seorang bayi perempuan ditemukan. Ia tergeletak begitu saja tanpa sehelai benang pun untuk melindunginya dari dingin, masih dengan sisa darah segar yang membasahi tubuh kecilnya. Suara tangisnya mungkin lirih, tapi ledakan reaksinya luar biasa.


Dalam sekejap, halaman rumah itu berubah menjadi panggung. Warga berkerumun, gawai-gawai diacungkan, dan video-video singkat segera beterbangan di media sosial. Di layar ponsel kami, kejadian itu menjadi konsumsi publik sebelum polisi sempat memasang garis pembatas.
Suara-Suara di Tengah Kerumunan
“Tega sekali ibunya,” bisik seseorang.
“Binatang pun tidak akan membuang anaknya,” timpal yang lain.

Mendengar itu, ada rasa sesak yang menghimpit dadaku. Bukan karena aku membenarkan tindakan membuang nyawa, sama sekali tidak. Namun, aku terusik oleh satu hal yang selalu luput dari riuhnya penghakiman warga: Di mana sang ayah?


Saat semua orang sibuk mengutuk perempuan yang melahirkannya, aku membayangkan apa yang terjadi selama sembilan bulan terakhir. Apakah perempuan itu melewati malam-malam penuh ketakutan sendirian? Apakah setiap tendangan di perutnya bukan membawa kebahagiaan, melainkan teror karena ia tahu lingkungan akan mengucilkannya?


Selama 270 hari, ia mungkin bersembunyi dalam bayang-bayang, tanpa dukungan, tanpa pelukan. Sementara itu, aku berani bertaruh, laki-laki yang turut menanam benih itu mungkin sedang duduk tenang, menyeruput kopi hangat di pagi hari, seolah dunia baik-baik saja.


Mengapa Telunjuk Kita Hanya Mengarah pada Satu Sisi?


Dalam narasi penelantaran anak, perempuan selalu menjadi sasaran empuk. Ia adalah “pelaku” yang nyata karena bekas luka dan darahnya tertinggal. Namun, masyarakat kita seringkali buta terhadap “pelaku yang tak kasat mata”. Laki-laki yang lepas tangan seringkali melenggang bebas dari sanksi sosial, sementara si perempuan menanggung beban moral, fisik, dan hukum sendirian hingga akal sehatnya mungkin pecah oleh rasa putus asa.


Kejadian di desa kami hari ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah cermin retak bagi kita semua. Saat kita lebih sibuk merekam dan mengunggah daripada bertanya, “Bagaimana kita bisa gagal melindungi sesama warga hingga ia merasa membuang bayi adalah satu-satunya jalan keluar?” saat itulah kita tahu ada yang salah dengan cara kita bertetangga.

Belajar dari Luka


Tragedi ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dari sekadar menghujat. Jika kita ingin cerita ini tak berulang di mudik tahun depan, kita perlu mengubah cara pandang:
1. Jadilah Pendengar, Bukan Hakim: Jika ada kerabat atau tetangga yang tampak menyimpan beban berat, rangkul mereka sebelum keputusasaan mengambil alih.
2. Tuntut Tanggung Jawab Setara: Berhenti membiarkan laki-laki bebas dari konsekuensi sosial dalam kasus kehamilan yang tidak diinginkan.
3. Gunakan Gawai untuk Melindungi: Sebelum menekan tombol upload, pikirkan apakah konten kita membantu menyelesaikan masalah atau justru menambah trauma.

Pagi itu di Cianjur, seorang bayi perempuan telah selamat dan kini dalam perawatan. Namun, tugas kita sebagai masyarakat baru saja dimulai: memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang merasa begitu sendirian di dunia ini, sampai-sampai ia harus membuang separuh jiwanya ke tanah yang dingin.

Bayi perempuan, kesehatan mental, Kesetaraan, Perempuan

Artikel Lainnya

Fatayat NU Garut dan Pemkab Garut Perkuat Komitmen Cegah Perkawinan Anak

#PerempuanRawatBumi: Go Green dari Rumah, Toko Organis YPBB dan Gaya Hidup Minim Sampah

Satu Desember: Solidaritas, Ruang Aman, dan Perlawanan terhadap Stigma bagi ODHA

Leave a Comment