Di Tengah Bising Ruang Digital, Fatayat NU Garut Dorong Perempuan Menjadi Penulis Narasi Dakwah Beretika

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Di tengah maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan narasi keag amaan yang kerap kehilangan etika di ruang digital, Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (PC Fatayat NU) Kabupaten Garut mengambil langkah berbeda. Alih-alih hanya menjadi konsumen informasi, kader perempuan Fatayat didorong untuk tampil sebagai produsen narasi yang bertanggung jawab.

Melalui Bidang Media dan Penelitian Pengembangan (Litbang), PC Fatayat NU Garut menggelar Kelas Menulis Fatayat bertema “Merajut Narasi Dakwah, Tradisi, dan Transformasi Digital untuk Pemberdayaan Perempuan”, Minggu (8/2/2026), di Aula PCNU Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kegiatan ini tidak semata-mata dimaknai sebagai pelatihan teknis kepenulisan, melainkan sebagai upaya strategis membekali kader perempuan menghadapi kerasnya ekosistem media digital yang sering kali abai pada nilai etika, verifikasi, dan kemanusiaan.

Sekitar 100 peserta yang terdiri dari pengurus PC serta delegasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Garut mengikuti kegiatan ini. Kehadiran kader dari berbagai wilayah menunjukkan kesadaran kolektif bahwa literasi media telah menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi keterampilan tambahan.

Melansir laman tribunpribumi.com Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Garut, Dr. Ernawati menegaskan bahwa menulis adalah bentuk keberanian perempuan dalam merespons realitas sosial, bukan sekadar aktivitas akademik atau organisasi.

“Ruang digital hari ini dipenuhi narasi yang bising, reaktif, dan sering kali melukai. Perempuan Fatayat tidak boleh hanya menjadi penonton. Menulis adalah cara kita hadir, menyaring, sekaligus menawarkan nilai,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tradisi menulis dalam sejarah perempuan telah terbukti menjadi alat perlawanan kultural yang efektif. Kartini, menurutnya, bukan dikenang karena posisinya, tetapi karena gagasan yang ia tinggalkan melalui tulisan.

Kelas menulis ini menghadirkan Ridwan Mustopa, jurnalis Kompas Media TV, yang mengulas dasar-dasar jurnalistik dan etika media. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa kebebasan menulis di era digital harus dibarengi dengan tanggung jawab moral.

“Siapa pun bisa menulis hari ini, tapi tidak semua tulisan layak disebarkan. Verifikasi dan keberimbangan adalah fondasi yang tidak boleh ditawar,” tegasnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Pena Fatayat, Dr. Chotijah Fanaqi, menyoroti pentingnya pengalaman perempuan sebagai sumber narasi yang sering terpinggirkan dalam media arus utama. Ia mendorong kader Fatayat untuk menjadikan tradisi, keluarga, dan realitas sosial sebagai bahan tulisan yang bernilai dakwah.

“Dakwah perempuan tidak harus keras. Justru kekuatannya ada pada kedekatan dengan kehidupan sehari-hari dan kepekaan sosial,” jelasnya.

Selain sesi materi, peserta juga dilibatkan dalam praktik langsung penulisan berita dan rilis organisasi. Tulisan peserta kemudian dibedah bersama sebagai upaya membangun budaya kritik dan refleksi, bukan sekadar produksi konten.

Melalui kegiatan ini, PC Fatayat NU Kabupaten Garut menegaskan posisinya sebagai organisasi perempuan yang tidak hanya adaptif terhadap transformasi digital, tetapi juga aktif membentuk etika dan kualitas narasi di ruang publik, khususnya dalam konteks dakwah Islam yang moderat dan berkeadaban.

beraktivitas, BG, Fatayat NU, Garut, Jurnalistik, Perempuan

Artikel Lainnya

Perkuat Kolaborasi Serumpun, UIN Bandung dan Delegasi Malaysia Gelar Seminar Internasional Konseling Islam

RTL Pasca Makesta, PAC IPNU-IPPNU Cililin Buktikan Kaderisasi Bukan Seremonial

Cetak Sejarah! Sumatera Media Summit 2024 Pertemukan Ratusan Media Lokal untuk  Naik Kelas

Leave a Comment