Kutub.co – Intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia masih menunjukkan tren tinggi memasuki pertengahan Januari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, dalam beberapa hari terakhir hujan dengan intensitas ringan hingga lebat terjadi di sebagian besar wilayah Tanah Air, bahkan disertai hujan ekstrem di sejumlah daerah.
BMKG melaporkan hujan dengan kategori ekstrem terjadi di Maluku Utara dengan curah hujan mencapai 256,3 milimeter per hari. Sementara itu, hujan sangat lebat tercatat di Papua Barat sebesar 114,6 milimeter per hari dan di Jawa Barat mencapai 113,2 milimeter per hari. Data tersebut dikutip Kutub.co dari laporan resmi BMKG pada Senin (12/1/2026).
Peningkatan curah hujan dalam sepekan terakhir, menurut BMKG, berkaitan erat dengan dinamika atmosfer yang masih aktif. Salah satu faktor utamanya adalah kondisi La Niña lemah yang berkontribusi terhadap meningkatnya suplai uap air di wilayah Indonesia.
Selain itu, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkuat oleh anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif serta perambatan gelombang ekuator yang secara simultan mendukung pertumbuhan awan hujan. Pada skala lokal, atmosfer yang labil turut meningkatkan potensi terbentuknya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Memasuki sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer global hingga lokal masih signifikan. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase negatif yang menandakan La Niña lemah. Kondisi ini, ditambah suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia, berpotensi menjaga ketersediaan uap air di atmosfer.
Secara spasial, aktivitas MJO diprakirakan melintasi wilayah yang cukup luas, mulai dari sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Selain itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator juga terpantau aktif, khususnya di Papua bagian selatan, yang dapat memperkuat proses konvektif dan meningkatkan peluang hujan.
BMKG juga mengamati adanya sirkulasi siklonik di perairan barat Australia, serta sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi angin yang membentang di berbagai wilayah perairan dan daratan Indonesia. Pola angin tersebut berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan, terutama di sepanjang jalur pertemuan angin.
Pada periode 9–11 Januari 2026, cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan hujan ringan hingga lebat. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra bagian tengah dan selatan, sebagian Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua Barat Daya.
BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah, antara lain Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Maluku Utara, dan Papua Selatan. Sementara itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Maluku Tenggara, Kepulauan Riau, NTB, NTT, Bali, Jawa, dan Sulawesi Selatan.
Memasuki periode 12–15 Januari 2026, potensi hujan masih relatif merata. Status siaga hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, serta Papua. Adapun potensi angin kencang diprediksi meluas di Maluku, Bali, Nusa Tenggara, Jawa, Sulawesi, hingga Papua Barat Daya.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, terutama pada awal tahun 2026. Risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang perlu diantisipasi, khususnya di wilayah rawan.