Kutub.co – Akhir-akhir ini, pagi di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Raka (bukan nama asli) menarik kerah jaketnya lebih rapat saat berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan lewat untuk pergi ke kantor. Langit mendung menggantung rendah, tetapi tak cukup gelap untuk benar-benar menjanjikan hujan.
“Bandung sekarang dinginnya beda,” katanya.
“Bukan dingin biasa. Kadang bikin badan nggak siap.” lanjutnya.
Raka sudah bertahun-tahun tinggal di Bandung dan terbiasa dengan udara sejuk kota ini. Namun sejak awal Januari 2026, ia merasakan perubahan yang lebih ekstrem pagi dan malam terasa menusuk, sementara siang hari bisa berubah panas dalam waktu singkat. Perubahan ini bukan sekadar soal rasa tidak nyaman, tetapi mulai mengganggu ritme hariannya.
Keluhan Raka sejalan dengan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai dinamika cuaca di awal 2026. BMKG mencatat atmosfer yang lebih aktif memicu hujan serta fluktuasi suhu di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat.
Bandung yang Terasa Lebih Dingin
Bagi Raka, dingin Bandung kini tidak lagi konsisten. Malam dan pagi menusuk tulang, sementara siang hari terasa terik.
“Malam dingin banget, pagi masih dingin, tapi siang bisa panas. Badan kayak dipaksa ngikutin cuaca, bukan sebaliknya,” ujarnya.
BMKG menjelaskan bahwa suhu udara yang lebih rendah dari rerata harian ini masih berada dalam proses alamiah. Namun, karena terjadi berulang dan dalam rentang waktu singkat, dampaknya terasa ekstrem bagi masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah pelepasan panas permukaan yang cepat pada malam hari, terutama setelah hujan atau saat langit relatif cerah, sehingga suhu permukaan turun signifikan dan udara terasa lebih dingin.
Hujan Datang, Dingin Bertahan
Selain suhu, hujan juga hadir tanpa pola yang mudah ditebak. Raka mengaku kini hampir selalu membawa jas hujan ke mana pun pergi.
“Kalau nggak bawa jas hujan, hujan. Kalau bawa, malah nggak hujan. Tapi dinginnya tetap ada,” katanya.
Pada Januari 2026, BMKG masih memprediksi potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah. Kondisi ini membuat udara lembap dan suhu dingin bertahan lebih lama, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Bandung. Bagi warga yang beraktivitas di luar rumah, kombinasi hujan singkat dan udara dingin membuat hari terasa lebih melelahkan, meski tanpa hujan besar atau bencana.
Tubuh yang Ikut Terdampak
Perubahan suhu yang cepat mulai memengaruhi kondisi fisik Raka.
“Belakangan gampang masuk angin, panas dingin. Bukan karena kehujanan terus, tapi kayak badan nggak dikasih waktu adaptasi,” ujarnya.
Fluktuasi suhu yang tajam memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri. Keluhan ringan seperti flu, batuk, dan sakit kepala menjadi lebih sering muncul, terutama pada pagi dan malam hari.
Mobilitas Kota di Tengah Cuaca Tak Stabil
Cuaca yang tidak menentu juga berdampak pada mobilitas warga. Hujan singkat kerap memicu kemacetan dan genangan di titik-titik tertentu di Bandung.
“Dulu macet ya macet. Sekarang macet, dingin, kadang banjir juga. Capeknya dobel,” kata Raka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca bukan lagi sekadar latar kehidupan kota, melainkan faktor yang secara langsung memengaruhi kenyamanan dan produktivitas warga.
Krisis Iklim dalam Skala Sehari-hari
Bagi Raka, krisis iklim tidak hadir sebagai peristiwa besar yang dramatis. Ia hadir dalam bentuk dingin yang lebih menusuk, hujan yang datang tiba-tiba, dan tubuh yang lebih cepat lelah.
Cuaca ekstrem bekerja secara perlahan dan diam-diam, melalui akumulasi kelelahan yang lama-kelamaan dianggap wajar. Ketika masyarakat terus dipaksa beradaptasi sendiri menyiapkan jaket, jas hujan, dan tenaga ekstra krisis iklim berhenti menjadi isu lingkungan semata, dan berubah menjadi persoalan kualitas hidup sehari-hari.