Kutub.co – Siapa yang tidak mengenal Prilly Latuconsina? Namanya sudah lama hadir di ruang publik Indonesia mulai dari sinetron remaja, film layar lebar, hingga perannya di balik layar sebagai produser. Dalam beberapa tahun terakhir, Prilly juga dikenal sebagai pebisnis dan dosen praktisi. Artinya, ia bukan sekadar figur hiburan, tetapi sosok dengan lintasan karier yang terus bergerak dan berkembang.
Karena itu, ketika unggahan bertuliskan “Open to Work” dengan nama Prilly Latuconsina muncul dan viral, reaksi publik sebenarnya tidak sesederhana “tertipu iklan”. Justru sebaliknya: banyak orang langsung menganggapnya masuk akal.
Bahkan sebelum tahu bahwa unggahan tersebut bagian dari kampanye, respons yang muncul adalah “Wajar kalau dia dicari banyak perusahaan.”
Di titik ini, yang menarik bukan soal prank-nya, melainkan mengapa publik begitu mudah percaya.
Kepercayaan Tidak Lahir dari Viral, tapi dari Narasi Panjang
Kepercayaan publik terhadap Prilly tidak muncul dari satu unggahan. Ia lahir dari narasi panjang yang dibangun bertahun-tahun konsistensi kerja, ekspansi peran, dan reputasi profesional yang relatif bersih dari sensasi murahan.
Kasus ini membuka pertanyaan yang lebih besar tentang dunia kerja hari ini: apa yang membuat seseorang dianggap bernilai tinggi secara profesional, bahkan tanpa bukti langsung di depan mata?
Jawabannya bukan sekadar popularitas, tetapi value yang telah dikenali bersama.
Bukan Satu Profesi, tapi Banyak Peran
Prilly adalah contoh nyata multi-hyphenate woman: aktris–produser–pebisnis–pendidik. Di dunia kerja modern, ini bukan anomali, melainkan keunggulan.
David Epstein dalam bukunya Range menegaskan bahwa di dunia yang kompleks dan cepat berubah, individu dengan breadth of knowledge kemampuan lintas bidang sering kali lebih adaptif dibanding spesialis sempit. Dunia kerja hari ini tidak hanya mencari “ahli”, tetapi pencari pola, penghubung ide, dan pemecah masalah lintas konteks.
Di titik ini, “value” dibaca sebagai kapasitas, bukan jabatan
Integritas sebagai Mata Uang Profesional
Alasan lain mengapa status “Open to Work” Prilly mudah dipercaya adalah reputasi. Personal brand yang kuat bukan dibangun dari satu momen viral, tetapi dari rekam jejak kerja yang konsisten.
Reid Hoffman, pendiri LinkedIn, menyebut bahwa kesuksesan karier bertumpu pada trust dan long-term credibility, bukan pada pencitraan instan. Dalam ekosistem profesional, kepercayaan berfungsi seperti mata uang sekali rusak, nilainya sulit dipulihkan.
Di tengah budaya exposure dan pencitraan, kasus ini menegaskan satu hal: trust masih mengalahkan sensasi.
Relevansi Bukan Bakat, tapi Keputusan
Dari dunia akting, ke produksi film, ke bisnis, hingga pendidikan,Prilly tidak berhenti di satu fase. Ia membaca perubahan, lalu menyesuaikan diri.
World Economic Forum berulang kali menegaskan bahwa adaptability dan continuous learning adalah keterampilan paling krusial di masa depan kerja. Relevansi bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi dipilih dan diusahakan.
Perempuan dengan value tinggi tidak bertahan karena masa lalu, tetapi karena kesediaan untuk terus bergerak.
Jadi, Mau Fokus ke Prank atau ke Value?
Kehebohan “Open to Work” kemarin membuktikan satu hal penting ketika seseorang memiliki value yang solid, status tersebut bukan alarm kepanikan, melainkan sinyal kesiapan.
Dunia kerja hari ini tidak lagi hanya menilai dari CV atau jabatan terakhir, tetapi dari narasi profesional yang konsisten, kredibel, dan relevan.
Pertanyaannya sekarang bukan soal Prilly. Tetapi soal kita semua, skill apa yang benar-benar membuat seseorang dianggap bernilai tinggi di dunia kerja hari ini?