Mengenal Digital Grooming: Ketika “Kolaborasi” Perlahan Berubah Menjadi Eksploitasi

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Awalnya terlihat sederhana. Sebuah pesan masuk. Obrolan ringan. Tawaran yang terdengar seperti peluang kolaborasi, konten, popularitas. Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan. Bahkan terasa menyenangkan.

Begitulah digital grooming bekerja.

Kasus “Sewa Pacar” yang melibatkan pelajar di Tasikmalaya mengingatkan kita bahwa kekerasan di ruang digital tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Konten kreator berinisial SL kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polres Tasikmalaya Kota (Januari 2026). Hingga saat ini, tiga korban telah melapor secara resmi, dan penyelidikan masih terus berkembang. Aparat menjerat pelaku dengan pasal eksploitasi anak karena memanfaatkan anak di bawah umur demi keuntungan materiil dan popularitas.

Namun, di balik angka, pasal hukum, dan tajuk berita, ada satu pertanyaan penting, bagaimana seorang anak bisa terjerat tanpa merasa sedang disakiti?

Grooming Tidak Pernah Datang Tiba-Tiba

Digital grooming bukan peristiwa spontan. Ia adalah proses. Pelan. Halus. Dan sering kali terlihat normal.

Pelaku biasanya memulai dengan membangun rasa aman mengajak berbincang, memberi perhatian, membuat korban merasa istimewa dan dihargai. Dari titik inilah manipulasi bekerja, sedikit demi sedikit, hingga batas-batas yang semestinya jelas menjadi kabur.

Beberapa pola yang berulang ditemukan dalam kasus-kasus grooming:

  • Janji viral dan popularitas instan, yang membuat anak merasa “akhirnya dilihat”
  • Money trap, di mana bantuan finansial menciptakan keterikatan emosional
  • Love bombing, limpahan perhatian yang membuat korban takut kehilangan
  • Normalisasi batas yang salah, hingga hal yang awalnya terasa janggal menjadi dianggap wajar

Ingat, Penting ditegaskan anak tidak terjebak karena bodoh, melainkan karena dimanipulasi secara sistematis oleh pihak yang lebih dewasa, lebih berpengalaman, dan lebih memahami cara kerja psikologis relasi digital.

Literasi digital bukan bertujuan menakuti anak dari internet, tetapi membekali mereka agar mampu mengenali tanda bahaya sejak dini dan berani berkata tidak.

Ketika Manipulasi Meninggalkan Jejak di Dalam Diri Anak

Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Kenapa tidak menolak sejak awal?”Pertanyaan ini terdengar logis, tetapi sesungguhnya keliru.

Dalam proses grooming, anak jarang merasa sedang dieksploitasi. Sebaliknya, mereka merasa diperhatikan, dipercaya, dan dianggap penting. Inilah mengapa dampak psikologis grooming sering tidak terlihat dari luar.

Beberapa dampak yang kerap dialami korban antara lain:

  • Self-blame, korban menyalahkan diri sendiri karena merasa “ikut terlibat”
  • Kecemasan dan ketakutan berlebih, terutama akan reaksi keluarga dan masa depan
  • Kehilangan harga diri, anak mulai memandang dirinya sebagai objek, bukan individu yang berharga

Luka ini tidak selalu tampak, tetapi ia bekerja diam-diam, memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Jejak Digital dan Tekanan Sosial: Luka yang Berlapis

Bagi remaja, identitas sosial adalah segalanya. Ketika kasus grooming terungkap di ruang publik digital, penderitaan korban sering kali justru bertambah. Psikolog sosial menekankan bahwa trauma tidak hanya datang dari peristiwa grooming itu sendiri, tetapi dari reaksi lingkungan setelahnya.

Korban menghadapi beban ganda:

  • Ketakutan akan jejak digital, khawatir konten akan muncul kembali di masa depan
  • Stigma dan perundungan, ketika komentar publik berubah menjadi victim blaming
  • Penarikan diri dari lingkungan sosial, kehilangan motivasi sekolah dan relasi

Dalam banyak kasus, korban memilih diam bukan karena tidak ingin dibantu, tetapi karena merasa tidak aman untuk bersuara.

Dari Kesadaran ke Tindakan Bersama

Memahami digital grooming berarti memahami bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Ia adalah tanggung jawab kolektif keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat digital.

Untuk kamu: Kamu punya hak penuh atas tubuhmu, ceritamu, dan batasanmu. Jika ada ajakan yang membuatmu tidak nyaman meskipun terlihat “normal” atau menjanjikan popularitas perasaan itu valid. Berani berkata TIDAK adalah bentuk menjaga diri, bukan sikap tidak sopan.

Karena di ruang digital, keberpihakan kita menentukan: apakah internet menjadi ruang aman atau ruang yang melanggengkan luka.

Digital grooming, Perempuan, Remaja, sewa pacar, SMA, Tasikmalaya

Artikel Lainnya

Langkah Menuju Kesetaraan: Perempuan Berdaya di Ruang Digital

Burnout di Awal Tahun: Antara Realitas Psikologis dan Ekspektasi Produktivitas

Mengatur Waktu dengan Baik: Panduan untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keseimbangan Hidup

Leave a Comment