Isu Kemanusiaan Bukan Musiman: Tanggung Jawab Sosial dan Peran Media

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Isu kemanusiaan kerap hadir di ruang publik secara tidak berkelanjutan. Ia mencuat ketika tragedi terjadi, lalu perlahan menghilang saat perhatian publik bergeser. Pola ini menciptakan ilusi seolah persoalan kemanusiaan bersifat sementara, padahal ketidakadilan sosial, kekerasan, dan kemiskinan adalah persoalan struktural yang terus berlangsung.

Dalam konteks ini, media memegang peran penting bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai arsitek kesadaran sosial. Media berperan menentukan apakah isu kemanusiaan diperlakukan sebagai kejadian insidental atau sebagai persoalan bersama yang membutuhkan perhatian jangka panjang.

Media sebagai Penjaga Konsistensi Isu Kemanusiaan

Konstruksi realitas sosial sangat dipengaruhi oleh apa yang terus dibicarakan di ruang publik. Ketika media konsisten mengangkat isu kemanusiaan, publik belajar memahami bahwa persoalan tersebut bukan anomali, melainkan bagian dari sistem sosial yang perlu dibenahi.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, R. Derajad Sulistyo Widhyharto, menekankan pentingnya menjaga narasi media agar tidak terjebak pada sensasionalisme. Ia mengingatkan bahwa pemberitaan isu sensitif harus menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek. Media yang mengabaikan dimensi ini berisiko menormalisasi penderitaan dan melemahkan empati publik.

Pandangan ini menunjukkan bahwa konsistensi pemberitaan bukan sekadar soal frekuensi, tetapi juga kualitas narasi. Media yang konstruktif tidak berhenti pada peristiwa, melainkan menghadirkan konteks, akar masalah, dan dampak sosialnya.

Dimensi Psikologis: Mengapa Isu Kemanusiaan Perlu Dibahas Berkelanjutan

Isu kemanusiaan selalu meninggalkan jejak psikologis, baik pada korban langsung maupun pada masyarakat luas. Trauma, kecemasan, dan kelelahan mental sering kali muncul jauh setelah sorotan media mereda. Ketika isu tersebut berhenti dibahas, proses pemulihan sosial dan psikologis juga ikut terhambat.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fajar Ruddin, menjelaskan bahwa dampak psikologis dari krisis kemanusiaan bersifat jangka panjang dan membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Ia menilai perhatian publik dan media yang konsisten membantu menciptakan ekosistem sosial yang lebih peduli terhadap pemulihan mental, bukan hanya terhadap aspek fisik atau materi.

Dengan kata lain, membicarakan isu kemanusiaan secara rutin bukan berarti membuka luka lama, tetapi memastikan luka tersebut mendapatkan ruang penyembuhan yang layak.

Dari Kesadaran ke Resolusi Sosial

Pendekatan konstruktif terhadap isu kemanusiaan tidak berhenti pada kesadaran, tetapi bergerak menuju resolusi sosial. Media dapat berperan sebagai penghubung antara pengalaman korban, masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan.

Sejarah kebijakan sosial di Indonesia menunjukkan bahwa perubahan sering kali didahului oleh narasi publik yang kuat. Perlindungan tenaga kerja, kebijakan cuti melahirkan, hingga revisi batas usia perkawinan lahir dari proses panjang diskusi publik yang terus dijaga agar tidak tenggelam. Di sinilah media berfungsi sebagai ruang dialog, bukan sekadar etalase peristiwa.

Peran Publik: Tidak Hanya Menonton, tetapi Terlibat

Pendekatan konstruktif juga menuntut peran aktif masyarakat. Publik tidak lagi ditempatkan sebagai konsumen berita, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sosial yang dapat:

  • Mengkritisi narasi media yang tidak berempati,
  • Mendukung jurnalisme yang berpihak pada nilai kemanu,
  • Dan terlibat dalam diskusi yang mendorong perubahan kebijakan.

Literasi media menjadi kunci agar masyarakat mampu membedakan antara pemberitaan yang membangun kesadaran dan konten yang hanya mengejar perhatian.

Menjadikan Kemanusiaan sebagai Komitmen Harian

Isu kemanusiaan bukan tren dan bukan beban moral sesaat. Ia adalah komitmen harian untuk menjaga keadilan, empati, dan martabat manusia di ruang publik. Media yang menjalankan perannya secara bertanggung jawab dapat menjadi penggerak resolusi sosial mendorong masyarakat tidak hanya peduli, tetapi juga terlibat dalam perubahan.

Membahas kemanusiaan setiap hari memang melelahkan. Namun, diam dan melupakannya justru memperpanjang ketidakadilan. Dalam masyarakat yang sehat, kemanusiaan bukan sesuatu yang ditunggu saat krisis, melainkan nilai yang terus dirawat setiap hari.

kemanusiaan, Peran media, Sosial, Tanggung jawab

Artikel Lainnya

4 Tips Praktis Mengembalikan Mood Membaca yang Hilang

Teosentris dan Egosentris

Ingin Menjadi Perempuan Ideal? Berikut Tips Mencapai Potensi Terbaik

Leave a Comment